Loading
  • February 28, 2019
  • By yogi iskandar
  • Branding SDM
  • Comments Off on Apa Saja Yang Kita Telah Pelajari di Seri Motivasi Ini?

Apa Saja Yang Kita Telah Pelajari di Seri Motivasi Ini?

Seri Motivasi Karyawan

Dalam beberapa minggu terakhir kita telah membicarakan banyak mengenai motivasi karyawan. Artikel ini akan membentuk semacam penutupan untuk seri motivasi ini. Untuk itu, mari kita rangkum kembali apa yang telah kita bicarakan.

Dalam artikel “Sumber Daya Manusia dan Branding – Kepentingan HRD Dalam Bisnis dan Branding”, kita membicarakan mengapa HRD dan motivasi karyawan adalah hal – hal yang penting dalam bisnis dan branding. Untuk banyak bisnis, karyawan adalah impresi pertama kita di mata pelanggan. Walau service recovery paradox berarti kita bisa menyelamatkan diri setelah kegagalan servis, kita juga menjelaskan mengapa kegagalan servis adalah sesuatu yang kita harus selalu hindari. Selain untuk mencegah kegagalan dalam servis, motivasi karyawan penting karena semua bisnis harus konsisten. Bila karyawan kita termotivasi dan sejajar dengan tujuan dan kepercayaan bisnis (visi dan misi), maka, saat menangani pelanggan, mereka akan bertingkah dengan kelakuan yang sejalan dengan kepentingan bisnis. Selain karyawan yang berinteraksi dengan pelanggan, karyawan kita yang lain juga perlu dimotivasi karena karyawan yang termotivasi akan bekerja semaksimal mungkin dan meningkatkan produktifitas. Semua alasan ini dan banyak alasan lain adalah mengapa kita harus mempunyai tenaga kerja yang termotivasi.

Setelah membicarakan mengapa motivasi karyawan sangat penting, dalam artikel “Pengertian Karyawan Adalah Salah Satu Tahap Dalam Branding – Hierarki Kebutuhan Maslow” kita menjabarkan hierarki kebutuhan Maslow. Hasil karya Abraham Maslow ini adalah mengenai struktur kebutuhan manusia. Menurut hierarki tersebut, kebutuhan manusia dapat dibagi menjadi 5 tingkat: kebutuhan fisiologi, kebutuhan akan keamanan, kebutuhan akan memiliki & kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Artikel tersebut menjelaskan apa itu kebutuhan – kebutuhan tersebut, tetapi intisarinya adalah bahwa semua orang akan mencoba untuk memuaskan kebutuhan yang di tingkat rendah dahulu sebelum mencoba untuk memuaskan kebutuhan yang di tingkat atas; seseorang yang belum memenuhi kebutuhan fisiologi mereka tidak akan mencoba untuk mencari status atau teman. Yang pasti, setiap orang memiliki kriteria yang berbeda. Ada yang harus makan 3 x sehari, tetapi ada juga yang cukup dengan sepotong roti setiap hari. Sebagai atasan karyawan kita, kita harus bisa mengenal mereka agar mengetahui kebutuhan – kebutuhan mereka.

Setelah mengenal lebih dalam struktur kebutuhan orang dan bagaimana cara menggunakan pengetahuan tersebut untuk memotivasi mereka, kita membahas two-factor theory dalam artikel “Hal yang harus patut diingat saat memotivasi – Two-factor Theory”. Teori tersebut mengatakan bahwa ketidakpuasan dan kepuasan orang terhadap perkerjaannya tidak saling eksklusif. Ketidakhadiran hygiene factors akan membuat seseorang tidak puas akan pekerjaannya, dan kehadiran motivators akan membuat seseorang puas akan pekerjaannya. Tetapi sebaliknya tidak sama. Hygiene factors tidak akan membuat orang puas akan pekerjaannya, dan ketidakhadiran motivators tidak akan membuat orang tidak puas akan pekerjaannya. Tempat kerja yang ideal dan optimal adalah tempat yang memiliki kedua faktor tersebut.

Berhubungan dengan two-factor theory, kita melihat salah satu cara motivasi karyawan yang cukup sering digunakan di beberapa bisnis pada jaman sekarang. Di artikel “Piece Rate Payment – Apakah Piece Rate Payment Dapat Memotivasi Karyawan Kita” kita menimbangkan piece rate payment dalam konteks two factor theory.

Setelah melingkupi content theories, kita mulai melihat process theoriesProcess theory pertama yang kita lihat adalah equity theory. Teori tersebut ditemukan oleh John S. Adams, seorang psikolog yang sering dipanggil oleh banyak perusahaan untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi tepat setelah revolusi industri di Amerika Serikat. Secara lebih jelas, teori tersebut mengatakan bahwa karyawan akan berusaha mempertahankan keadilan antara input yang mereka berikan kepada pekerjaannya dan output yang mereka terima, dengan input dan output orang lain. Ada banyak contoh input dan output yang seorang karyawan dapat beri/terima. Rinciannya dapat ditemukan di artikel “Yang Penting Harus Adil! – Adam’s Equity Theory”. Bila karyawan kita merasa bahwa mereka diperlakukan secara adil; baik menurut persepsi diri sendiri terhadap apa itu yang adil, dan juga persepsi mereka terhadap perlakuan mereka relatif dengan perlakuan rekan – rekan mereka; mereka akan termotivasi.

Process theory berikut yang kita bahas adalah expectancy theory karya Victor Vroom di artikel “Ekspektasi dan Motivasi – Expectancy Theory”. Menurut Vroom, kecenderungan kita untuk melakukan suatu tindakan akan tergantung pada harapan kita akan hasil yang diterima dan daya tariknya. Expectancy theory terfokus kepada 3 hubungan yang dipikirkan oleh seorang karyawan sebelum melakukan suatu tindakan: hubungan antara usaha dan kinerja, hubungan antara kinerja dan imbalan, dan hubungan antara imbalan dan daya tariknya. Semakin kuat ketiga hubungan tersebut, semakin karyawan kita akan termotivasi untuk melakukan pekerjaannya.

Pada artikel terakhir dalam seri motivasi sebelum artikel ini, “Tipe Pemimpin Apakah Anda”, kita membicarakan tipe – tipe pemimpin dan karakteristik mereka. Kita membicarakan tipe pemimpin otokratis, demokratis, dan laissez-faire, dan kekuatan dan kelemahan dari masing – masing tipe. Walaupun setiap orang memiliki preferensi sendiri, pemimpin yang terbaik adalah seseorang yang dapat menyesuaikan kepemimpinannya terhadap orang yang dia tangani dan situasi yang dia hadapi.

Sepanjang seri ini, kita telah membicarakan banyak sekali teori – teori mengenai motivasi karyawan kita. Jika anda perhatikan, tidak ada petunjuk langkah demi langkah untuk memotivasi karyawan kita yang akan selalu bekerja. Sayangnya, tidak seperti matematika dan ilmu sejenis, teori – teori dalam bisnis bukanlah ilmu pasti. Manusia terlalu kompleks untuk hal semacam itu. Di dunia bisnis tidak ada hal yang pasti. Walaupun teori – teori yang telah kita bahas adalah hasil dari riset bertahun – tahun yang dilakukan oleh peneliti – peneliti terhebat di dunia, tidak berarti bahwa teori tersebut dapat diterapkan di segala situasi. Pengertian karyawan yang lebih dalam adalah hal yang membedakan pebisnis yang hebat dan yang terhebat. Teori mengenai subyek ini tidaklah sedikit dan masih banyak lagi teori – teori yang belum kita bahas. Teori – teori yang juga dapat membantu kita semua dalam dunia bisnis. Namun untuk sementara, seri ini sampai disini saja. Mungkin kita akan kembali membicarakan motivasi karyawan kedepannya, tetapi saya harap bahwa anda semua sudah belajar dan mengerti lebih banyak bagaimana kita dapat memotivasi karyawan kita.