Loading
  • December 18, 2015
  • By site-admin
  • Blog
  • Comments Off on Faktor-Faktor Keberhasilan Entrepreneur

Faktor-Faktor Keberhasilan Entrepreneur

Entrepreneur seringkali digambarkan sebagai seorang yang tangguh, berani menjalankan usaha mandiri dengan mengorganisasikan seluruh sumberdaya yang dimiliki, yang berarti pula menanggung risiko kegagalan dengan tujuan akhir memperoleh penghasilan/kemakmuran. Dalam pandangan Schumpeterian, entrepreneurship merupakan suatu kegiatan yang disebut sebagai creative distruction, dimana pada dasarnya kegiatan ini merupakan suatu upaya untuk menciptakan ketidakseimbangan melalui berbagai penemuan baru yang kemudian akan menjadi titik keseimbangan baru. Biasanya proses ketidakseimbangan ini dilakukan oleh pendatang baru (new entrants). Sepanjang proses menuju titik keseimbangan baru ini, pendatang baru akan memaksimalkan keuntungan dengan tujuan akhir memaksimalkan penciptaan kemakmuran (wealth creation). Entrepreneurship juga seringkali dipandang sebagai suatu kegiatan realisasi kesempatan (opportunities) yang telah teridentifikasi dengan tujuan akhir juga untuk memaksimalkan kemakmuran. Namun demikian, kegagalan (failure) merupakan fenomena penting dalam entrepreneurship, termasuk apa penyebab dan konsekuensinya bagi individu, organisasi dan masyarakat (Cardon et al. 2011). Hal ini dirasa penting mengingat persepsi masyarakat atas kegagalan dapat mendorong atau mematikan keinginan seseorang untuk menjadi entrepreneur. Demikian pula, persepsi masyarakat atas pekerjaan sebagai entrepreneur dapat menjadi pendorong berkembangnya entrepreneurship.

Dutta (2008) mendefinisikan keinginan untuk tumbuh (growth intention) sebagai tujuan atau aspirasi entrepreneur atas tingkat / laju pertumbuhan (growth trajectory) yang diinginkan oleh entrepreneur tersebut. Dalam hal ini pada dasarnya pertumbuhan entrepreneur untuk sebagian besar tergantung pada dirinya sendiri. Dengan demikian, entrepreneur adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sedangkan entrepreneurship dapat dilihat sebagai suatu proses yang meliputi semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi.

Lounsbury (2001) mengemukakan bahwa sesungguhnya perhatian utama entrepreneurship adalah “bagaimana kesempatan (opportunities) untuk menghasilkan barang dan jasa dimasa mendatang dapat ditemukan, diciptakan dan dieksploitasi, oleh siapa dan dengan konsekuensi apa”. Ireland et al (2003) menjelaskan bahwa beberapa ahli menganggap / melihat entreprenership terkait kebaruan (newness and novelty) dalam bentuk produk baru, proses baru, serta pasar yang baru sebagai penggerak utama proses penciptaan kemakmuran (wealth creation). Dengan demikian, kemampuan untuk mengidentifikasi adanya kesempatan merupakan inti dari entreprenership. Ahuja dan Lampert (2001) selanjutnya mengatakan bahwa upaya untuk mengetahui faktor penentu terjadinya invensi terobosan (breakthrough invention) juga dipandang penting dari sudut pandang strategi teknologi dan pembelajaran organisasi. Invensi terobosan mecerminkan adanya sumber keunggulan daya saing yang langka (rare), bernilai (valuable), dan sukar untuk ditiru.

Upaya mengeksploitasi kesempatan (opportunities) mendorong perusahaan untuk berupaya menciptakan keunggulan daya saing berkelanjutan (sustainable competitive advantage). Namun demikian, dengan perkembangan lingkungan usaha, seringkali keunggulan daya saing yang tercipta terebut hanya bertahan untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama, sehingga keunggulan tersebut tidaklah bersifat sustainable (berkelanjutan) melainkan bersifat sementara (temporary). Di lain sisi, keunggulan daya saing yang mencerminkan perbedaan dalam pemilikan sumber daya dapat menyebabkan situasi berbedanya faktor pendukung keberhasilan entrepreneur yang satu dengan yang lain, baik faktor yang berasal dari lingkungan internal (resources) maupun yang berasal dari lingkungan eksternal termasuk faktor kelembagaan (institutional factors). Baik pada perusahaan yang baru tumbuh (start-up) maupun bagi perusahaan yang telah eksis, proses kewirausahaan (entrepreneurship process) dilakukan guna mengejar kesempatan usaha (business opportunities) yang akan dapat mendorong ekspansi usaha, meningkatkan kemajuan teknologi dan pada gilirannya akan dapat menciptakan kemakmuran (wealth creation).

Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan situasi lingkungan usaha yang semakin cepat berubah, bagaimanakah entrepreneur dapat mengidentifikasi, meraih dan mengeksploitasi kesempatan serta menciptakan keunggulan daya saing (competitive advantage) yang berkelanjutan guna menciptakan kemakmuran (wealth creation). Lebih dalam lagi, faktor-faktor yang dapat mendukung keberhasilan entrepreneur, dalam hal ini menciptakan keunggulan komparatif yang berkelanjutan.

Tujuan Penulisan
Memperoleh gambaran menyeluruh perihal identifikasi faktor-faktor utama penentu keberhasilan entrepreneur. Keberhasilan dalam hal ini adalah kemampuan entrepreneur menciptakan keunggulan daya saing yang dapat menjamin terciptanya kemakmuran.

Batasan Masalah
Pembahasan masalah ini adalah bersifat kajian konseptual/kajian teoritis. Informasi yang bersifat empiris hanyalah merupakan ilustrasi dan bukan merupakan hasil penelitian.

TINJAUAN LITERATUR
Nassif et al (2010) mengutip Bygrave (2004) menjelaskan proses kewirausahaan (entrepreneurship process) sebagai suatu rangkaian tahapan dan peristiwa (events) yang saling mengikuti satu dengan yang lain. Tahapan tersebut adalah (i) ide/konsepsi usaha (the idea or conception of the business), (ii) peristiwa yang memicu operasi ( the event that triggers the operations), (iii) implementasi (implementation) dan (iv) pertumbuhan (growth). Proses tersebut dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat digambarkan dengan diagram sebagai berikut :

artikel
Gambar 1 : Model Proses Kewirausahaan (Bygrave, 2004)

Selanjutnya, dengan memperhatikan gambar diagram tersebut di atas Nassif et al (2010) mengutip Bygrave (2004) menjelaskan bahwa “sebagaimana terjadi pada sebagian besar perilaku manusia, perilaku kewirausahaan (entrepreneurial traits) dibentuk oleh sifat-sifat pribadi (personal attributes) dan lingkungan (environment). Faktor-faktor yang bersifat dimensi pribadi, yang secara inheren berada dalam diri seseorang, merupakan pendorong utama bagi seseorang untuk menjadi entrepreneur dan juga merupakan faktor utama yang mendorong kesuksesan seseorang dalam menjalankan usaha. Faktor lingkungan pada dasarnya merupakan katalisator bagi keberhasilan entrepreneur.

Lebih lanjut lagi, Nassif et al (2010) mengutip Bygrave (2004) menjelaskan bahwa entrepreneur memiliki locus of control yang lebih tinggi dibandingkan dengan non entrepreneur, yang berarti bahwa entrepreneur memiliki keinginan yang lebih tinggi untuk menentukan nasibnya sendiri (…that entrepreneurs have a higher locus of control than non-entrepreneurs, which means that they have a higher desire to be in control of their on fate). Penjelasan perihal karakteristik entrepreneur oleh Bygrave digambarkan dalam 10 Ds sebagai berikut :

artikel

Secara ringkas, konsep 10 D tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : (i) Dream : mempunyai visi terhadap masa depan dan mampu mewujudkannya, (ii) Decisiveness : tidak bekerja lambat, membuat keputusan berdasar perhitungan yang tepat, (iii) Doers : membuat keputusan dan melaksanakannya, (iv) Determination : melaksanakan kegiatan dengan penuh perhatian, (v) Dedication : mempunyai dedikasi tinggi dalam berusaha, (vi) Devotion : mencintai pekerjaan yang dimiliki, (vii) Details : memperhatikan faktor-faktor kritis secara rinci. (viii) Destiny : bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yang hendak dicapai. (ix) Dollars : motivasi bukan hanya uang, (x) Distribute : mendistribusikan kepemilikannya terhadap orang yang dipercayai.

Penelitian yang dilakukan oleh Nassif et al (2004) di Brazil menunjukkan dominasi aspek afektif seperti ketekunan (perseverance), keberanian (courage), motivasi pribadi, tingkat penerimaan terhadap risiko dan optimisme pada tahap awal pembentukan entitas usaha, khususnya paa tahap konsepsi bisnis. Disebutkan bahwa dominasi aspek afektif hanya terjadi pada tahap awal pembentukan usaha, dan secara bertahap sesuai dengan perkembangan /pertumbuhan usaha bergeser kepada aspek kognitif. Lebih lanjut, disebutkan bahwa faktor lingkungan seperti kultural/budaya, sosial politik dan ekonomi turut memberikan pengaruh dari waktu ke waktu pada aspek afektif dan kognitif.

Bosma et al (2000) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi suksesnya kegiatan kewirausahaan (entrepreneurship) di Negeri Belanda. Riset ditujukan pada perusahaan-perusahaan yang didirikan pada tahun 1994 dan secara terus menerus diikuti perkembangannya. Determinan yang dipergunakan dalam penelitian ini diklasifikasikan dalam beberapa sumberdaya (resources) yang dalam bobot yang berbeda dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut sewaktu memulai usahanya. Kategorisasi sumberdaya tersebut adalah sumberdaya manusia (human capital) sumberdaya keuangan (financial capital) dan sumberdaya sosial (social capital). Variabel determinan lain yang dipergunakan adalah strategi yang dipergunakan untuk menjaga usahanya. Ukuran keberhasilan dalam hal ini adalah tingkat keuntungan yang diperoleh, tingkat perkembangan lapangan pekerjaan yang diciptakan dan kemampuan/jangka waktu perusahaan untuk bertahan (survival period).

Secara umum, penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut :

1. Sumberdaya manusia (human capital)

  1. Entrepreneur dengan usia yang lebih tua cenderung menciptakan lapangan kerja lebih sedikit dibanding yang berusia lebih muda.
  2. Entrepreneur dengan usia lebih muda memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk meninggalkan bisnisnya.
  3. Tingkat pendidikan berhubungan positif dengan kesuksesan usaha.
  4. Aspek pengalaman (experience) meningkatkan probabilitas keberhasilan dalam bentuk penciptaan keuntungan dan daya tahan (survival).

2. Sumberdaya keuangan (financial capital)

  1. Pendapatan yang diperoleh entrepreneur di luar dari pendapatan dari entitas yang didirikannya berdampak negative terhadap profitabilitas dan penciptaan lapangan kerja.
  2. Perusahaan yang dibiayai oleh modal sendiri tidak meciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang besar.
  3. Kontribusi finansil dari mitra usaha akan meningkatkan penyediaan lapangan kerja.

3. Sumberdaya sosial (social capital)

  1. Adanya entrepreneur lain dalam keluarga berhubungan negative dengan penciptaan keuntungan.
  2. Adanya kontak dengan jaringan entrepreneur lain berhubungan positif dengan penciptaan lapangan kerja.
  3. Dukungan emosional dari keluarga inti berpengaruh positif terhadap profitabilitas dan umur/daya hidup entitas usaha.

4. Strategi yang dipergunakan untuk menjaga usaha

  1. Bilamana entrepreneur fokus pada hubungan komersil dalam memperoleh informasi yang diperlukan bagi usahanya, maka entrepreneur tersebut akan berhasil dari aspek keuntungan, lapangan pekerjaan yang diciptakan dan kelangsungan hidup.
  2. Fokus pada kegiatan cabang umumnya hanya berhubungan dengan kelangsungan hidup entitas.
  3. Fokus pada hubungan usaha langsung (dengan konsumen dan pemasok) berhubungan dengan tingkat profitabilitas yang diperoleh.
  4. Hubungan informal dengan sesama entrepreneur sedikit berpengaruh pada penciptaan lapangan kerja.

5. Variabel kontrol

  1. Dalam hal kelangsungan hidup (survival) dan daya tahan (durability) entiras usaha, entrepreneur pria lebih unggul dibandingkan dengan entrepreneur wanita.
  2. Dalam hal perolehan profitabilitas dan penciptaan lapangan kerja, tidak ada perbedaan signifikan antara entrepreneur pria dengan entrepreneur wanita.

Rose et al (2006) melakukan penelitian atas faktor-faktor yang menunjang kesuksesan entrepreneur di Malaysia. Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:

  1. Faktor utama kesuksesan entrepreneur adalah inisiatif pribadi (personal initiative). Entrepreneur dengan inisiatif pribadi yang tinggi akan dapat mengembangkan manajemen, meningkatkan ketrampilan operasi usaha dan memiliki sikap (attitude) yang selalu belajar dan berkembang.

  2. Sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu entitas juga merupakan faktor pembeda yang menunjang keberhasilan entitas entrepreneur. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara berbagai aspek dalam area sumberdaya manusia dengan pertumbuhan entitas usaha.

  3. Sejalan dengan perkembangan perusahaan, entrepreneur pendiri perusahaan harus senantiasa meningkatkan manajemen perusahaan, meningkatkan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan, meningkatkan pemanahamn atas kebutuhan pasar dan makin mendengarkan umpan balik (feedback) yang disampaikan oleh konsumen.

  4. Kelangsungan hidup entitas usaha juga dipengaruhi oleh kemampuan untuk memahami trend dan memperkirakan secara tepat apa yang akan terjadi di masa mendatang.
    Entrepreneur pendiri perusahaan harus terlibat dalam proses perencanaan strategis, utamanya terkait dengan kondisi persaingan yang terjadi. Hal ini dianggap penting guna menjamin kelangsungan hidup perusahaan di masa mendatang.

Terkait dengan aspek individu, dimana motivasi dan semangat membangun pada entrepreneur merupakan salah satu faktor dalam menunjang keberhasilan usaha seorang entrepreneur, Aidis et al (2008) mengkonfirmasi hal tersebut melalui hasil penelitiannya dengan menyebutkan bahwa entrepreneur yang berpandangan optimis (entrepreneurial optimists) memiliki kinerja dalam bentuk profitabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan entrepreneurial pessimists. Ekspektasi awal seorang entrepreneur (owner-manager) berdampak positif terhadap kinerja pertumbuhan aktual di masa mendatang.

Lebih lanjut, penelitian Aidis et al (2006) menunjukkan bahwa entitas usaha yang dijalankan oleh entrepreneur yang tidak memiliki pengalaman usaha disebut sebagai (“nascent entrepreneur”) tidak dapat menghasilkan keuntungan yang memadai. Entitas usaha yang paling dinamis adalah yang termasuk dalam “middle category” yaitu dengan pengalaman kewirausahaan antara 2 sampai 16 tahun.

KESIMPULAN
Perkembangan lingkungan usaha yang cepat merupakan tantangan bagi setiap pelaku usaha. Mereka yang berhasil mengatasi tantangan dan menemukan kesempatan yang muncul di antara berbagai masalah yang ada akan dapat bertahan hidup, bahkan berhasil dalam usahanya. Mereka yang tidak kompeten, tidak berpengalaman ataupun cenderung menghindari risiko akan menghilang seiring berjalannya waktu.

Dari uraaian di atas, terlihat bahwa untuk dapat berhasil, baik dalam aspek perolehan keuntungan dan tingkat profitabilitas yang memadai, dapat menciptakan lapangan kerja maupun dapat bertahan hidup, tidak hanya diperlukan kemampuan/ketrampilan kewirausahaan (entrepreneurial skills) semata. Penelitian menunjukkan bahwa dua hal utama dalam menunjang kesuksesan entrepreneur adalah faktor individu entrepreneur dan faktor lingkungan.

Beberapa faktor yang bersifat individual yang perlu dimiliki oleh entrepreneur adalah :

  1. Kepemimpinan
  2. Percaya diri dan determinasi
  3. Fokus dan diferensiasi
  4. Memilliki pola pikir optimis
  5. Berpikir kreatif dan inovatif dan continuous learning
  6. Pengambilan keputusan yang cepat dan terukur
  7. Sikap tanggap terhadap perubahan lingkungan
  8. Ekonomis dan efisien
  9. Memiliki visi masa depan (mampu memperkirakan dan merencanakan)
  10. Sikap terhadap resiko (memiliki risk appetite yang terukur)

Selain hal-hal yang bersifat inheren dalam diri entrepreneur, terdapat pula faktor eksternal yang dapat mendukung kesuksesan entrepreneur diantaranya :

  1. Adanya landasan legal yang kondusif dalam bentuk peraturan perundangan yang mendukung tumbuh dan   berkembangnya entrepreneurship. Secara natural, sebagian besar entrepreneur adalah usaha kecil dan menengah. Dengan demikian, lingkungan yang tercipta haruslah mendukung UKM untuk memiliki akses ke sumber pembiayaan, akses pasar, akses teknologi dan akses informasi.

  2. Adanya budaya dan pola pikir (mindset) yang mendukung entrepreneurship sebagai sumber nafkah. Kegagalan dalam berusaha dipandang sebagai suatu proses pembelajaran, dan bukan sebagai alas an untuk meninggalkan kegiatan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga inti (spouse) merupakan salah satu faktor keberhasilan entrepreneur.

REFERENSI

Ahuja, Gautam and Cueba Morris Lampert (2001), Entrepreneurship in the Large Corporation : A Longitudinal Study of How Established Firms Create Breakthrough Inventions, Strategic Management Journal 22 : 521-543.

Aidis, Ruta, Tomasz Mickiewicz and Arnis Sauka (2008), Why Are Optimistic Entrepreneurs Successful? An Application of the Regulatory Theory, William Davidson Institute Working Paper number 914

Bosma, Niels, Mirjam van Praag and Gerrit de Wit (2000), Determinants of Succesful Entrepreneurship, Scientific Analysis of Entrepreneurship and SMEs, P.O. Box 7001 2701 AA Zoetermeer`

Cardon, Melissa S, Christopher E. Stevens and D. Ryland Potter (2011), Misfortunes or Mistakes? Cultural sensemaking of entrepreneurial failure, Journal of Business Venturing 26 79-92

Dutta, Dev K and Stewart Thornhill (2008), The evolution of growth intention : toward a cognition based model, Journal of Business Venturing 23, pages 307-332.

Ireland, R. Duane , Michael A. Hitt and David G. Sirmon (2003), A Model of Strategic Entrepreneurship, Journal of Management, 29;963.
Lounsbury, Michael and Mary Ann Glynn (2001), Cultural Entrepreneurship : Stories, Legitimacy, and the Acquisition of Resources, Strategic Management Journal, 22 : 545-564.

Nassif, Vânia Maria Jorge, Alexandre Nabil Ghobril, Newton Siqueira da Silva (2010), Understanding the Entrepreneurial Process : a Dynamic Approach, Brazilian Administration Review, Curitiba, vol 7 number 2 article 6.

Rose, Raduan Che, Naresh Kumar and Lim Li Yen (2006), Entrepreneurs Success Factors and Escalation of Small and Medium-sized Entreprises in Malaysia. Journal of Social Sciences 2 (3). Science Pulications.
 

Roy Kuntjoro
Penulis : Roy Kuntjoro (Managing Director)