Loading
  • September 19, 2018
  • By yogi iskandar
  • Blog Branding
  • Comments Off on Marketing Myopia

Marketing Myopia

Kebanyakan orang mengerti bahwa melakukan riset untuk mengenal pelanggan sangatlah penting. Namun masih banyak pebisnis di dunia yang belum mengerti cara memandang data tersebut. Menjual sebuah produk adalah, pada dasarnya, untuk memperbaiki masalah yang dialami oleh para pembeli; orang membeli payung untuk menghindari hujan. Namun banyak bisnis yang terfokus untuk menjual payung, daripada menjual sebuah produk yang bisa dipakai untuk menghindari hujan. Saat sebuah bisnis lebih terfokus untuk menjual produknya daripada mengerti alasan pelanggan membeli dan menggunakan produk mereka, mereka mengalami sebuah kondisi yang disebut marketing myopia.

Marketing myopia adalah sebuah kondisi dimana bisnis terlalu berfokus untuk menjual produk mereka daripada mengerti masalah apa yang produk mereka pecahkan. Sebuah bisnis harus bisa memikirkan dirinya bukan sebagai pembuat barang dan jasa saja, tetapi sebagai solusi masalah pelannggan mereka. Mengapa ini penting? Saat sebuah bisnis mengalami marketing myopia, ia terlalu berfokus terhadap produk yang sekarang mereka menjual dan tidak terhadap pertumbuhan market mereka. Contoh yang sering digunakan adalah mengenai Kodak.

Pada suatu saat, Kodak adalah sebuah brand yang dipikirkan semua orang di dunia saat memikirkan fotografi, kamera, dan film. Tetapi, saat tahun 1975, Kodak menciptakan kamera digital. Daripada memulai transisi untuk menjual kamera digital, mereka lebih memilih untuk menyembunyikannya. Mereka lupa bahwa apa yang dibeli pelanggan mereka bukanlah sekedar kamera dan film saja, tetapi mereka membeli sebuah wadah untuk merekam kenang – kenangan mereka, dan untuk melakukan itu mereka akan mencari wadah yang paling mudah untuk digunakan. Bila Kodak tidak mengalami marketing myopia mereka akan mengerti bahwa untuk tetap menarik pelanggan mereka, mereka harus memproduksi dan menjual kamera digital. Tetapi, selagi Kodak sedang mengalami marketing myopia, peluang ini digunakan oleh kompetitor Kodak, Sony dan Canon, untuk mulai produksi dan memasarkan kamera digital secara agresif. Saat Kodak menyadari kesalahan mereka, mereka sudah terlambat. Pelanggan – pelanggan mereka yang tadinya mengaitkan wadah kenang – kengangan dengan Kodak, sekarang mengaitkan pada Sony dan Canon. Karena Kodak mengalami marketing myopia, mereka kehilangan posisi pemimpin pasar yang mereka pegang setelah kerja keras hampir 100 tahun.

Seperti yang bisa dilihat, sangatlah penting untuk sebuah bisnis atau organisasi menghindari kondisi marketing myopia ini. Janganlah memikirkan bisnis anda sebagai sekedar menjual barang atau jasa saja. Bisnis harus mengerti alasan pelanggan mereka membeli produk yang bisnis itu jual. Jangan sampai kerja keras anda terbuang karena melupakan pelanggan anda.