Loading
  • September 24, 2018
  • By yogi iskandar
  • Branding
  • Comments Off on Perjalanan Pencarian Laut Biru: Strategi Marketing dengan dukungan riset 100 tahun (part 1)

Perjalanan Pencarian Laut Biru: Strategi Marketing dengan dukungan riset 100 tahun (part 1)

Sebagaimana telah diketahui, dengan tren sosial yang mendukung kreativitas dan pengembangan dalam teknologi dan infrastruktur yang membuat berbisnis jadi begitu mudah, entrepreneurship di Indonesia ini berada pada puncaknya. Ini baik bagi perkembangan negeri kita, namun berarti bahwa market sudah penuh dengan kompetisi. Maka kita harus memiliki strategi untuk bersaing.

Blue Ocean Strategy

Blue Ocean Strategy atau ‘Strategi Laut Biru” adalah sebuah marketing strategi yang bisa digunakan untuk memasuki market yang sudah penuh dengan kompetisi dan merupakan sunset industry. Strategi tersebut adalah hasil dari penelitian oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne sepanjang sepuluh tahun, menggunakan data lebih dari 30 industri selama seratus tahun. Nama tersebut berasal dari pembagian market menjadi antara red ocean (laut merah) dan blue ocean (laut biru). Red ocean adalah market yang sudah terpenuhi oleh kompetisi, seperti bagian di lautan yang penuh dengan ikan hiu yang tercemar dengan darah mangsanya. Strategi Blue Ocean ini adalah sebuah strategi dimana kita harus mencari bagian yang masih biru (blue ocean), yaitu bagian dari market yang tidak memiliki banyak kompetisi, di dalam red ocean.

Cirque du Soleil

Cirque du Soleil adalah produsen teater terbesar di dunia dan mereka adalah sebuah grup sirkus. Pertunjukan mereka telah ditonton oleh lebih dari 150 juta orang di lebih dari 300 kota seluruh dunia. Dalam 20 tahun, Cirque du Soleilberhasil mencapai tingkat pendapatan yang setara dengan tingkat pendapatan market leader sebelumnya, Ringling Bros. dan Barnum & Bailey, selama 100 tahun. Bagaimana caranya? Menggunakan strategi blue ocean.

Pada saat Cirque du Soleil ingin memulai bisnis mereka, industri sirkus sudah termasuk industri sunset. Kompetitor terlalu banyak, supplier power sangat tinggi, buyer power sangat kuat, dan minat terhadap bentuk hiburan lainnya meningkat dengan cepat. Target market utama, yaitu anak – anak, lebih memilih untuk bermain game daripada pergi menonton sirkus. Tren sosial terhadap hak asasi hewan yang mulai menyebar (terutama di negara – negara bagian barat) juga membuat pertunjukan – pertunjukan yang melibatkan hewan lebih sulit untuk dilakukan.

Untuk memasuki dunia sirkus, Cirque du Soleil menggunakan strategi blue ocean. Mereka mengamati semua norma yang ada di industri sirkus dan menganalisa setiap aspek. Pada umumnya, market yang ditarget adalah para anak – anak. Namun, menurut Cirque du Soleil, anak – anak bukanlah market yang memiliki uang, uangnya datang dari orang tua mereka. Mereka juga melihat bahwa ada banyak orang dewasa yang tertarik untuk menonton sirkus. Orang – orang dewasa tersebut juga bersedia untuk membayar lebih untuk menikmati sebuah pengalaman baru. Untuk menarik orang dewasa yang memiliki uang lebih, dibandingkan dengan tempat kotor yang digunakan oleh kebanyakan sirkus karena murah, mereka menggunakan tenda – tenda yang megah dan berkelas. Karena mereka melihat tren sosial terhadap hak asasi hewan semakin menyebar, mereka tidak lagi menggunakan hewan dalam pertunjukannya. Sebagai gantinya, mereka meningkatkan pertunjukan akrobat mereka agar bisa menjadi pemimpin di bidang itu. Pada dasarnya, mereka tidak bersaing di red ocean (yaitu dunia sirkus secara umumnya), tetapi mereka mencari sebuah blue ocean, yaitu bagian market di dalam red ocean dimana tidak ada kompetisi. Dengan demikian, Cirque du Soleil berhasil mencapai keberhasilan yang belum pernah ada di dunia sirkus sebelumnya.